Arabic Blog






“Hujan ketujuhmu akan segera turun.”

            Ia mengangguk. Tak perlu mendengar lebih jauh lagi, karena pernyataan itu sudah jelas. Hujan ketujuh adalah akhir. Perdebatan sejak semalam itu masih saja berlanjut. Justru makin bertambah sengit, karena masing-masing pihak kukuh dengan pendiriaannya. Bosan mendengar perdebatan tak berujung itu, sebut saja namanya Sauda, karena ia adalah masa lalu terkelam di antara yang lain, memilih menjauh. Menyusuri lautan seperti biasa. Beberapa yang kebetulan berpapasan dengannya membungkuk, tanda penghormatan.

            Sambil menyusuri laut, Sauda tak sengaja menangkap siluet perempuan di bibir pantai. Rambut panjangnya dibiarkan berkibar tertiup angin. Ia tahu bahwa perempuan itu tengah berperang dengan perasaannya, karena sama sekali tidak peduli terhadap gelombang laut yang menghempas kaki jenjangnya. Hampir tujuh hujan dilewati Sauda di laut ini dan ia masih belum bisa mengerti tentang pikiran manusia. Bahwa laut selalu saja menjadi kubangan duka. Meski begitu pada sisi lain manusia dapat tertawa lepas pula. Jadi apa benar bahwa laut menawarkan duka dan suka pada saat yang sama?

            “Tidakkah ia tahu tentang dongeng dari laut?”

***

            Konon setiap penyakit yang dialami manusia di muka bumi adalah penggugur dosa. Ketika itu Tuhan akan mengutus malaikat untuk mengambil dosanya, kemudian dibuang di laut. Kisah setelah itu selanjutnya menjadi dongeng yang diwariskan turun-temurun. Katanya dosa yang telah dibuang itu akan menjelma menjadi buih lautan dan berinteraksi layaknya manusia, akan tetapi mereka mengemban sebuah misi yang tidak ringan. Setiap dosa harus menemukan tuannya dan membantu agar tidak terjerumus kembali ke dosa yang sama. Jika mereka berhasil menunaikan misi itu, mereka dapat melebur bersama lautan. Sebaliknya jika gagal, maka mereka harus siap jadi santapan ikan-ikan.

            Susah payah Hek menyeret tubuhnya yang gemetar ke bawah pohon kelapa. Tampaknya Tuhan masih belum berniat mencabut nyawanya meski sudah hampir satu jam berdiri bodoh di bibir laut. Dalam keremangan ia tahu bahwa kakinya nyaris membiru. Ia berdecak sedikit kesal. Sebuah usaha sia-sia. Tak ingin bunuh diri, maka ia mencari cara agar mati dengan tenang. Mungkin inilah yang dimaksud enggan hidup, tapi tak berani bunuh diri. Saat itu hujan deras tiba-tiba mengguyur, menyambut kala pertamanya di pantai ini.

            “Apa kabar, Hek?”

            Hek tersentak dengan kehadiran sosok yang tiba-tiba duduk di sampingnya. Mata hitamnya melebar. Siapa sosok asing ini?

            “Tak perlu sekaget itu. Aku mengenalmu dengan baik. Begitupun sebaliknya.”

            Kening Hek berkerut, tetapi kekagetannya mulai reda.

            Sosok itu tertawa kecil. “Tidakkah kau tahu tentang dongeng dari laut?” Tanpa menunggu jawaban Hek, ia melanjutkan. “Laut adalah kubangan duka dan dosa. Buih yang terhempas gelombang itu adalah sekian dari beribu dosa yang terbuang.” Ia menoleh menatap mata Hek dalam-dalam. “Percayakah kau bahwa satu dari sekian buih itu adalah dosamu?”

            “Aku pernah menjadi bagian dari seorang perempuan. Gadis kecil manis dan penurut. Kali pertama membantah orang tuanya, meninggalkan rumah, berkubang dalam maksiat, membunuh sahabatnya, menutup telinga saat mendengar kabar kematian ayahnya… Aku tahu dengan jelas bahwa dosanya sudah tak terhingga. Dan sampai beberapa detik lalu aku masih bertanya-tanya mengapa Tuhan begitu baik membuang dosanya ke laut? Jawabnya, karena sesungguhnya ia masih memiliki hati nurani.”

            Hujan mulai reda dan sosok itu perlahan-lahan memudar.

            Ingatan ketika Hek kecil sakit tiba-tiba menyeruak. Saat itu ibunya bercerita bahwa sakit adalah penggugur dosa. Hek tersentak. “Siapa namamu?”

            “Aku adalah dosa terkelam. Sauda,” ucapnya sebelum menghilang. Hujan terakhirnya telah usai.

***

            Beruntung selama ini Sauda terbiasa menutup perasaannya. Ia menatap sedih ke bibir laut. Bukan nasibnya yang ia pikirkan, tapi nasib perempuan itu. Hek kembali berdiri di bibir laut. Tiga ekor ikan berenang mendekat pada Sauda. Dan ketika ikan itu perlahan menggerogoti tubuhnya, ia tahu bahwa misinya telah gagal. Benar. Sedikit sekali orang yang bertobat atas dosa-dosanya.

***

Takalar, 18 Agustus 2017
SETANGKAI EDELWEIS
Yusriah Ulfah Winita

Masihkah kau sebut Edelweis sebagai lambang keabadian, jika bersamanya terkubur ikrar abadi?
            Masih segar di ingatan wanita bermata cekung itu, tiga puluh tahun lalu, dua rupa yang mungkin sekalipun ia ingin, tak akan pernah lekang. Ekor matanya yang sudah dimakan usia bergerak-gerak. Kelebat dua rupa itu kembali mengusik. Memaksa kenangan yang sangat ingin dikuburnya bangkit lagi.
            “...Maukah kau menjadi penyempurna hidupku? Bukan hanya di dunia, melainkan kelak di kehidupan kedua. Tuhan dan Gunung Bawakaraeng ini menjadi saksinya.” Pria berkulit kecokelatan itu berjongkok di atas bongkahan batu besar berlumut. Setangkai Edelweis dalam genggamannya.
            “Aku...”
            Jari yang tak lagi seperti dulu menyeka sudut matanya. Bahkan setelah waktu berputar, matanya masih saja tak sanggup membendung rasa sakit itu. Bukan hanya mata, tetapi juga hatinya. Kadang ia menyesali, mengapa waktu itu ingatannya tak hilang saja. Bukankah dalam hidupnya sudah tidak ada lagi yang bisa dipertahankan? Bersama dengan kenangan itu, Tuhan merenggut semua yang dimilikinya. Lihat saja, sekarang ia telah menjelma menjadi boneka tua yang hanya bertumpu pada kursi roda, tangan kiri tak lagi bisa bergerak, dan jari-jari yang luluh lantah bentuknya.
            Sungguh, Tuhan tidak pernah adil padanya. Sejak dulu...
***
Oriza. Agustus, 1992
Wawan nama pria itu. Kulitnya kecokelatan, tubuh tidak terlalu tinggi, tetapi selalu dapat menarik perhatian kaum hawa. Termasuk Oriza. Seorang gadis sederhana yang memiliki setumpuk mimpi. Ia terlampaui mengagumi sosok Wawan. Bahkan ketika para pengagumnya mundur perlahan-lahan karena hobi mendaki, Oriza tetap kukuh pada pendiriannya. Bukan hanya mengagumi lagi, ia ingin memiliki sosok itu. Dan keinginannya menjadi kenyataan. Setahun setelah mengenal Wawan, mereka melangsungkan ikrar suci. Tanpa wali.
Sehari, seminggu, sebulan... semua baik-baik saja. Hingga pada suatu hari, untuk pertama kali, Wawan mengajaknya mendaki. Meski awalnya ragu, pada akhirnya Oriza setuju. Tetapi, siapa sangka. Pendakian yang harusnya berakhir bahagia itu justru mendatangkan prahara.
            Wanita yang sudah begitu dikenalnya entah mengapa terlihat lain hari itu. Juli, teman sekampus Wawan. Sejak pertama kali mengenal Wawan, kala itu juga ia mengenal Juli. Pembawaannya ceria. Juga satu-satunya teman Wawan yang memiliki tatapan lain padanya.
            “Julia Sativa, Maukah kau menjadi penyempurna hidupku?...”
            Pertanyaan di benak Oriza terjawab sudah kala itu. Lanjutan kalimat Wawan tak lagi didengarnya. Hanya ada gelap, setelah kalimat almarhum Ayahnya terngiang.
            “Ayah memberi kalian nama yang jauh berbeda tetapi saling melengkapi...”
Alasan kenapa Juli memiliki tatapan berbeda padanya, bukan sekedar sebagai orang terdekat Wawan, melainkan karena darah mereka memang sama.
***
Juli. Februari, 2022    
Kini air mata telah membanjiri wajah keriputnya. Miris mengenang kejadian ketika Wawan berlutut di hadapannya dengan setangkai Edelweis.
            “Ibarat Edelweis, aku ingin cinta kita abadi.”
            Sementara beberapa meter dari mereka, Oriza tergolek tak berdaya. “Kakak...”
            Saat itu, ia baru sadar kalau dirinya berada di antara Wawan dan Oriza, adiknya sendiri.
            “Kalau kau masih menganggapku wanita yang melahirkanmu, jangan pernah mengukir cerita dengan laki-laki itu!”
            Bola mata gadis berusia dua puluh itu bergerak-gerak. Ada kilatan tekad terpancar di dalamnya. “Kenapa!?” setengah berteriak. “Bukankah salah satu kewajiban orang tua adalah menikahkan anaknya? Mama pernah bilang sudah bosan dengan tingkahku, jadi biarkan saja aku dengannya. Karena setelah itu, kewajiban Mama gugur padaku. Tidak lagi perlu memberiku uang jajan, membuat sarapan, atau...”
            “Ambil.” Suara wanita bertubuh gempal itu pelan, tetapi cukup menghentikan kalimat putri semata wayangnya. Sebuah amplop putih disodorkan.
            Seketika ia tersentak. Kenapa ingatan itu baru melintas di benaknya sekarang? Saat semua sudah terlambat. Mungkinkah ini teguran Tuhan karena ia telah menyakiti hati orang yang paling tulus mencintainya? Astaga! Betapa durhakanya ia pada waktu itu...
            Jika berandai-andai tidak terlalu menyakitkan, maka ia akan mengandaikan waktu itu lebih sabar sedikit. Membuka amplop putih dari Mama, membacanya. Mungkin saja, di antara lembaran rupiah yang diberinya terselip sebuah fakta kalau pria yang diperjuangkannya telah menikah siri dengan adiknya sendiri.
Andai saja... Mungkin saat ini ia masih bisa melihat Oriza... Mama... mungkin juga Wawan.
            Tidak peduli lagi dengan kalimat Mamanya, gadis dua puluh tahun itu meraih amplop putih di atas meja yang taplaknya sudah usang. Dan tanpa basa-basi menarik ransel besarnya, lalu pergi. Ia sudah bulat, hari ini adalah hari terakhir menginjakkan kaki di rumah reot yang sudah bertahun-tahun mengikuti langkahnya. Ketika kakinya terhenti tepat di ujung pekarangan, ia melempar amplop itu ke tong sampah. Tanpa membukanya.
***

            
UNTUK ADIKKU

Adikku,
Jangan kau sangsi garis takdirmu,
yang tertulis untaian jalanmu.
Biar jalan penuh kerikil,
tak baik melempar ke jalan jiwa lain.
Biar jalan semerbak kesturi,
tetaplah menunduk.

Adikku,
Walau ribuan maki keluar dari bibir,
takkan berkurang kasihku.
Percayalah.

Jika tak kau temui kepercayaan,
maka Tuhan-lah tempatmu kembali, sayang.

Tamalanrea, 28 Maret 2016, 20.28 WITA


Putih Abu-Abu
Yusriah Ulfah WInita

Bersama kita merajut asa
Berbagi dalam kepingan cahaya
Bermimpi tentang hari esok
Bertualang dalam dunia abu-abu

Kita adalah kuncup-kuncup,
yang menanti kekasihnya
Kita adalah tunas-tunas, 
yang mendamba musim semi
Kita adalah kunang-kunang,
yang bercita menjadi bintang

Ketika...
Sepenggal asa menyapa...
Merentangkan sayap putihnya...
Menawarkan sepotong harapan...

Saat itulah...
Kita menghiasi langit malam 
Saling melambai dalam rujatan masa lampau
Bertitip salam pada semilir angin
Berharap takdir berpotongan

Karena, 
Sayap abu-abu telah menjelma,
pada pijakan yang berbeda
KISAH SEDERHANA

Ini hanya sebuah kisah sederhana tentang rutinitas pagi, yang kadang luput dari perhatian kita. Aku sendiri juga baru tahu dari seorang teman.

Di sebuah jalan, pagi. Saat berangkat ngampus bersama seorang teman. Ia berkata padaku, "Lihatlah. Aku selalu suka dengan rutinitas pagi seperti ini." Aku sedikit bingung, bertanya, "Rutinitas bagaimana?" Ia tersenyum, "Begini. Kesibukan mahasiswa lalu-lalang menuju kampus, bahkan hampir memenuhi seluruh jalan kecil ini. Sangat berkesan."

Aku lantas mengamati sekeliling. Benar!! Aku tersenyum sambil berkata, "Ini baru pertama kalinya aku merasakan pagi seperti ini."
"Setelah sekian lama tinggal di sini?" ia setengah tak percaya. "Berarti masih ada lapis pagi hari yang belum terjamah olehmu selama ini."

Ini hanya secuil kisah yang terukir di jalan ini. Kalau kau ingin menyaksikannya, cobalah datangi jalan pemukiman di sekitaran kampus. Mungkin rutinitas seperti itu akan kau temui.
 
Created By SoraTemplates | Distributed By Gooyaabi Themes